Merindu


1 juta manusia di bumi hari ini, merindu, melambungkan doa ke langit. Aku, bukan orang ke seratus atau seribu, yang terakhirpun belum tentu. Doanya melambung, melayang. Aku hanya takut, doa-doa kita, doa kalian dan doaku berbentur lalu jatuh tergeletak di tanah lapang.

Sekuat apa kita sebagai manusia, menghitung jejak malam itu rasanya tidak mungkin. Hanya sebatas merindu, orang lain pun sama. Bahkan rindu orang lain sudah di bicarakan, sudah diisyaratkan sejak malam tadi. Ini bukan perkara hati atau jiwa, hanya saja tangis sebagian kita memecahkan sunyi disetiap harinya.
Mematahkan sendi kekuatan, bertentangan dengan spirit manusia berada. 
Merindu, bukan lagi harapan. Kita kenal merindu adalah keinginan. Tapi kalau keinginan bukan seperti rindu. Maka merindunya kita adalah kosong. Sedikit bait puisi yang ku punya..


Jarak menambah pilu
Saat raga tak mampu bertemu
Kata orang ini yang namanya rindu
Ketika hati terasa terus menggebu

Kamu tahu aku sudah mulai terbiasa
Melihat senyummu menyapa dahaga
Kini kamu ada di batas senja
Beradu sapa hanya lewat suara

Rindu selalu memaksa bertamu
Karena dia tak mengenal apa itu waktu
Rindu terus meronta liar
Karena dia tak mengenal apa itu sabar

Rindu selalu gagal ku buat jinak
Karna dia tak kenal apa itu jarak
Namun doamu membuatku kuat
Saat candu akan rindu membuat hampir sekarat

Tetaplah jadi motivasi terkuat
Saat dunia terasa berat
Karena aku ingin terus merasa
Bahagia bersamamu menyelesaikan dunia

-Muhamad Aldy Setiyawan

Kita berdo’a pada semesta, agar Bumi ini Sehat kembali dan mau memaafkan kita sebagai penghuninya yang sudah merusak, membuat keriuhan, bahkan dimulainya Bumi diperkosa. Kita percaya Semesta luas tak terbatas, dari kita yang hanya mengharap balas padahal diri kita berbatas.

#Dirumahaja #socialdistancing #rebahan

Komentar

Postingan Populer