Tapak Jogja
Hey, Jogja aku menyapamu..
Kata orang, hidup di jogja itu nyenengin, biaya hidupnya murah, banyak tempat wisata, cuacanya nggak panas, hidupnya santai, orang-orangnya pun santun. Kata temanku di Jogja, tiap sudut Jogja itu romantis, ada kalanya terlihat manis, tapi sesekali waktu tiba-tiba bikin nangis. Kata sahabatku, Jogja itu terbuat dari rindu, yang sering kali datang hampir nggak pernah kenal waktu.
Tetanggaku juga pernah bilang, kalau Jogja itu ibarat rumah dari manapun kamu berasal. Jogja, selalu jadi tempat pulang yang ramah. Bahkan kata sepupuku, Jogja itu malah bikin bingung, bingung gimana cara buat ngelepasinnya. Harus dengan senyuman atau dengan air mata?
Pernah kebayang nggak sih gimana cara tiap manusia yang ada di sini selalu bergerak tanpa henti untuk merawat jati diri kotanya, merawat tradisi, dan juga cara mereka memanusiakan manusianya?
Sampai akhirnya.. rasa bimbang dari sekian banyak orang yang pernah singgah di kota ini perlahan
menjelma menjadi cinta, rindu, takut kehilangan. Kemudian..
mereka enggan untuk beranjak pergi.
Dibalik semua kisah istimewa yang kita abadikan, kalau kita sadari kota sederhana ini diam-diam sedang menahan sakit sekarang, yang kulihat wajah kota ini mulai pucat paru-parunya mulai sesak. Mungkin akibat terlalu sering menghirup asap dari kendaraan bermotor yang semakin banyak. Punggungnya semakin gemetar, kelihatannya.. sudah mulai kesusahan menopang beban gedung-gedung bertingkat yang besar. Tangannya pun semakin melemah, udah nggak cekatan lagi kalau dipakai untuk memungutin sampah.
Kedua kakinya keliatan keriput. Mungkin.. terlalu sering berendam di jalanan kota
yang berlubang dan penuh air hujan.
Matanya memerah kalau lihat tingkah anak-anaknya yang kadang
nggak ramah.
Orang-orang disini mulai segan bertukar senyum memilih cemberut, memperburuk situasi yang udah semakin kelut. Bibirnya.. yang nggak pernah berhenti menuturkan nasihat moral dan unggah-ungguh tapi, selalu dibalas dengan sikap acuh tak acuh.
Hidup nggak cuma sendiri, perlu santun dan ketulusan hati. Nggak susah kok menyebar bahagia ke sesama kayak sesederhana.. memanusiakan manusia. Kalau kita nggak segera ngelakuin sesuatu untuk kembali merawatnya, mungkin.. cuma tinggal nunggu waktu aja kita akan jadi saksi hidup perlahan mulai kehilangan jati dirinya.
Dari Jogja yang berhati nyaman
Menjadi Jogja..
Yang benar-benar berhenti nyaman
Mau?☹️☹️





Komentar
Posting Komentar