Rindu
“Aku ingin kau seperti sebuah kapal yang tetap akan berusaha pulang walau diterpa badai paling kencang.”
Kau bagian terindah dalam hidupku, namun hanya
sesaat. Begitu rapat tersimpan semua tentangmu dan selalu aku ingat. Kisah kita
begitu pelik, namun ingatan begitu senang untuk mengulik segala tentangmu. Di
kepalaku, kau masih begitu indah, sekalipun dari cerita yang sudah-sudah kita
terpaksa memantapkan perjalanan pada akhir yang begitu pasrah. Dalam lantunan
waktu-waktu yang terus berjalan, tidak ada lagi harapan yang terlihat di depan.
Kita telah benar-benar terpisah. Tidak akan bisa untuk disatukan lagi dengan
cara apa pun.
Sejauh kaki ini dilangkahkan, kau dan aku tidak pernah
menemukan jalan untuk berbalik. Setiap tempat yang kau dan aku lalui, hanyalah
cara-cara dalam mengobati setiap luka. Tidak ada yang bersalah di antara kita.
Semesta saja yang tidak memberi izin agar kita dapat berlanjut. Tapi, hingga
saat ini, kau masih kekal dalam hatiku, dan sesekali kau menjelma rindu yang
tidak tertahankan. Kapan pun waktu menjelma sunyi, kau akan selalu ada di sini.
Tertawa dengan keras, namun dalam wujud bayangan masa silam.
Hai, aku rindu perasaanmu yang dulu. Perasaan yang hidup
dalam hatimu oleh karena adanya aku di sana. Perasaan yang pernah terlihat
begitu tulus dan kau berikan kepadaku seutuhnya. Aku rindu
percakapan-percakapan kita tentang hari-hari depan, atau sekadar menertawakan
keanehan-keanehan yang ada pada diri kita. Sungguh, aku rindu semua tentangmu
yang tak dapat lagi aku temukan dalam keseharianku. Bahkan, untuk melihat
senyummu dari kejauhan saja, aku tak lagi pernah.
Di mana kau kini berada? Adakah semua tentangku masih
terajut dalam dadamu? Masihkah ada sedikit perasaanmu untukku? Masihkah ada
kira-kira sedikit tempat bagi diriku untuk mengisi bagian dalam hatimu?
Berbaliklah kepada diriku sebentar saja, untuk mengobati kerinduanku yang terasa
sakit ini. Datanglah kepadaku sejenak saja. Rinduku kerap mengigil untuk kau
hangatkan.
Datanglah, telah kupersiapkan segalanya untukmu dekapan
hangat, senyum terbaik, atau tentang seluru masa silam yang pernah kita lewati.
Kemarilah, banyak yang ingin aku ceritakan kepadamu. Tentang kekesalan-
kekesalan hatiku yang tidak pernah kamu hiraukan. Tentang caramu pergi yang
membuat diriku terasa tidak berharga. Tentang rintihan-rintihan elegi kemarin
yang berusaha aku tenangkan sendiri.
Oh kau sama sekali tidak mendengar suaraku? Jangan kau
pura-pura tuli. Kau pasti mengerti tentang semua kesakitan ini.
Bertanggungjawablah. Jika setelah itu kau pergi, sungguh akan aku lepas. Tapi,
tolong selesaikan semua ulah yang telah kau timbulkan.
"Beberapa dari cinta yang pernah dijalani, mungkin terasa sangat memilukan. Sebagian dari mereka tetap memilih untuk hidup dalam kenangan pilu tersebut. Beberapa dari hubungan yang pernah dijalin, mungkin pernah terasa menyakitkan. Dan anehnya, banyak yang tetap bertahan dalam kesakitan tersebut. Entah mereka tidak mengetahui cara untuk melepas, atau mereka masih berharap kepada orang-orang yang nyatanya telah terlepas."


Komentar
Posting Komentar